Harga Pangan Dunia Naik di Tengah Ketidakpastian Konflik Timur Tengah

Pers Pangannews

Senin, 06 April 2026 10:39 WIB

news
Harga pangan dunia naik di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id – Harga pangan global kembali bergerak naik pada Maret 2026 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan biaya energi akibat konflik tersebut mulai memberi tekanan pada pasar komoditas pangan internasional.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO), melaporkan Indeks Harga Pangan FAO mencapai 128,5 poin pada Maret 2026. Angka ini meningkat 2,4 persen dibandingkan Februari dan lebih tinggi 1,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dikutip dari laman resminya, Minggu (5/4/2026), Kepala Ekonom FAO Máximo Torero menilai dampak konflik terhadap harga pangan sejauh ini masih tertahan oleh ketersediaan serealia global yang cukup besar. Namun, ia mengingatkan tekanan dapat meningkat apabila situasi berlangsung lebih lama.

“Apabila konflik berlangsung lebih dari 40 hari di tengah tingginya biaya input dan tipisnya margin saat ini, petani akan dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertani dengan input yang lebih sedikit, mengurangi luas tanam, atau beralih ke komoditas yang membutuhkan pupuk lebih rendah,” ujar Torero.

Dari kelompok komoditas, indeks harga serealia meningkat 1,5 persen secara bulanan. Kenaikan terutama berasal dari harga gandum dunia yang melonjak 4,3 persen akibat kekeringan di Amerika Serikat serta potensi penurunan luas tanam di Australia karena mahalnya pupuk.

Harga jagung global hanya naik terbatas. Ketersediaan pasokan yang melimpah menahan kenaikan lebih tinggi, meskipun kenaikan harga energi mendorong ekspektasi peningkatan permintaan etanol yang turut menopang harga.

Berbeda dengan komoditas lain, harga beras internasional justru turun 3,0 persen pada Maret. Penurunan dipengaruhi musim panen, melemahnya permintaan impor, serta pelemahan sejumlah mata uang terhadap dolar AS.

FAO juga mencatat indeks harga minyak nabati meningkat 5,1 persen dibandingkan Februari dan melonjak 13,2 persen secara tahunan. Kenaikan terjadi pada minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, mengikuti naiknya harga minyak mentah yang meningkatkan permintaan bahan baku biofuel.

Lonjakan paling besar terjadi pada komoditas gula yang naik 7,2 persen. Hal ini dipicu perkiraan meningkatnya alokasi tebu di Brasil untuk produksi etanol seiring tingginya harga energi global, meskipun pasokan dunia masih ditopang panen yang baik di India dan Thailand.

Sementara itu, indeks harga daging naik 1,0 persen, didorong kenaikan harga daging babi di Uni Eropa serta daging sapi global, khususnya dari Brasil yang menghadapi keterbatasan pasokan ekspor. Sebaliknya, harga daging unggas dan domba mengalami penurunan, sebagian karena kendala logistik di kawasan Timur Tengah.

Pada kelompok produk susu, indeks harga naik 1,2 persen. Penguatan terutama berasal dari kenaikan harga susu bubuk akibat pasokan musiman yang lebih rendah di Oseania. Namun, harga keju internasional turun di Uni Eropa karena produksi meningkat dan permintaan ekspor melemah.

Editor : Adi Permana

 

 


Kolom Komentar

You must login to comment...