Senin, 06 April 2026 11:58 WIB
Pangannews.id - Dampak konflik di Iran mulai merembet ke berbagai sektor setelah pasokan energi global terganggu selama sekitar satu bulan terakhir. Tidak hanya harga minyak yang melonjak, keterbatasan bahan baku turunan minyak kini mulai memicu kelangkaan sejumlah barang konsumsi.
Gangguan aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz memangkas sekitar 20 persen pasokan minyak global. Kondisi ini berdampak langsung pada industri petrokimia yang menjadi bahan baku berbagai produk sehari-hari, mulai dari kemasan plastik, pakaian berbahan poliester, hingga komponen karet.
Tekanan mulai terasa di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi dan menjadi pusat manufaktur dunia. Harga plastik, karet, dan poliester dilaporkan meningkat, memicu kekhawatiran gangguan produksi di berbagai sektor.
Di Korea Selatan, masyarakat dilaporkan mulai melakukan panic buying kantong sampah. Pemerintah setempat bahkan mengimbau penyelenggara acara untuk mengurangi penggunaan barang sekali pakai guna menekan permintaan.
Sementara itu, Taiwan membuka hotline bagi produsen yang kesulitan memperoleh bahan plastik. Dampak juga menjalar ke sektor pangan, di mana petani beras mulai mempertimbangkan kenaikan harga karena terbatasnya kemasan vakum.
Krisis serupa muncul di Jepang. Kekurangan selang medis berbahan plastik memicu kekhawatiran terhadap layanan pasien gagal ginjal kronis. Di Malaysia, produsen sarung tangan turut memperingatkan potensi gangguan pasokan global akibat langkanya bahan turunan minyak untuk pembuatan lateks.
"Dampaknya sangat cepat menyebar ke berbagai sektor, dari bir, mi instan, keripik, mainan hingga kosmetik," kata Dan Martin dari Dezan Shira & Associates.
Ia menjelaskan, kelangkaan komponen seperti tutup botol, kemasan, dan kontainer plastik mulai menghambat rantai produksi. Selain itu, turunan minyak juga digunakan dalam perekat sepatu dan furnitur, pelumas mesin, serta bahan kimia untuk cat dan proses pembersihan industri.
Menurutnya, gangguan pasokan energi dan logistik dengan cepat menjalar ke industri petrokimia dan barang konsumsi. Kondisi tersebut menambah tekanan inflasi global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan harga bahan bakar juga berdampak pada sektor transportasi dan distribusi. Di sisi lain, terganggunya pasokan pupuk dan helium dari Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan produk elektronik.
Dana Moneter Internasional (IMF) menilai efek rambatan krisis terjadi saat banyak negara memiliki ruang fiskal terbatas untuk meredam guncangan. Lembaga tersebut memperkirakan konflik yang berlarut akan mendorong harga lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat.
Editor : Adi Permana
Senin, 06 April 2026 12:36 WIB
Senin, 06 April 2026 10:39 WIB
Rabu, 25 Maret 2026 16:31 WIB
Selasa, 24 Maret 2026 11:32 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...