7 jam yang lalu
Pangannews.id- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi andalan peningkatan kualitas gizi masyarakat, menyimpan tantangan lain yang tak kalah besar, yakni limbah pangan. Tanpa pengelolaan yang tepat, sisa makanan dari program ini berpotensi menambah beban lingkungan sekaligus memicu kerugian ekonomi.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Basuki Rachmat, mengingatkan bahwa persoalan limbah pangan di Indonesia sudah berada pada level serius.
“Produksi limbah pangan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun. Sebagian besar berasal dari rumah tangga dan berdampak pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial,” ujar Basuki, dikutip dari laman resmi BRIN.
Angka tersebut, menurut dia, menjadi peringatan bahwa program berskala besar seperti MBG harus dirancang tidak hanya dari sisi distribusi makanan, tetapi juga pengelolaan sisa konsumsi.
Basuki menilai pendekatan ekonomi sirkular menjadi kunci untuk menekan dampak tersebut. Prinsip reduce, reuse, recycle, dan recover perlu diterapkan agar limbah tidak berakhir sebagai sampah, melainkan kembali menjadi sumber daya.
“Limbah tidak lagi dianggap sebagai sisa, tetapi sebagai bahan yang bisa dimanfaatkan kembali,” katanya.
Ia mencontohkan, berbagai teknologi saat ini telah memungkinkan limbah makanan diolah menjadi energi. Metode seperti pirolisis, gasifikasi, hingga pencernaan anaerobik mampu mengubah limbah organik menjadi biogas, biochar, bahkan listrik.
Namun, Basuki menegaskan bahwa solusi tidak selalu harus berteknologi tinggi. Untuk skala komunitas atau daerah dengan sumber daya terbatas, metode sederhana justru lebih relevan.
Pengolahan melalui komposting, penggunaan bioaktivator, hingga pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) dinilai efektif untuk mengubah limbah menjadi pupuk atau pakan ternak.
“Setiap metode punya karakteristik, biaya, dan efektivitas berbeda. Jadi harus disesuaikan dengan skala dan jenis limbah,” ujarnya.
Menurut Basuki, jika dikelola dengan baik, limbah pangan justru dapat menjadi sumber nilai tambah. Selain mengurangi tekanan terhadap lingkungan, pengolahan limbah juga membuka peluang ekonomi baru, mulai dari produksi energi hingga pupuk organik.
Ia menekankan, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari seberapa jauh program tersebut mampu berjalan berkelanjutan.
“Pengelolaan limbah yang optimal bisa menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya,” pungkas Basuki.
Editor : Adi Permana
Jumat, 01 Mei 2026 20:42 WIB
Kamis, 30 April 2026 13:47 WIB
Senin, 27 April 2026 14:58 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...