Teknologi Iradiasi Diuji untuk Atasi Hama Beras Tanpa Bahan Kimia

Pers Pangannews

Rabu, 04 Maret 2026 15:04 WIB

news
Teknologi iradiasi diuji untuk atasi hama beras tanpa bahan kimia. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Upaya mencari cara efektif menjaga kualitas beras kini mengarah pada pemanfaatan teknologi iradiasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui unit riset tenaga nuklir menawarkan metode ini sebagai alternatif pengendalian hama tanpa penggunaan bahan kimia.

Pendekatan tersebut muncul dari kebutuhan menjaga mutu beras dalam masa penyimpanan panjang. Selama ini, salah satu persoalan utama adalah infestasi kutu beras yang kerap tidak terdeteksi sejak awal.

Telur hama dapat tersembunyi di dalam butiran, lalu berkembang saat beras sudah tersimpan dalam waktu tertentu.

Masalah ini membuat penurunan kualitas sering baru terlihat ketika populasi hama telah meningkat, sehingga beras tidak lagi layak konsumsi atau mengalami penurunan nilai.

Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti mengembangkan teknologi iradiasi pengion berbasis berkas elektron berenergi tinggi atau electron beam. Metode ini bekerja dengan merusak sistem biologis hama, mulai dari telur hingga serangga dewasa, sehingga siklus hidupnya terhenti.

Dilansir dari laman resmi BRIN, Peneliti dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir, Bimo Saputro, menjelaskan bahwa teknologi ini tidak meninggalkan residu dan tidak memengaruhi kualitas beras secara signifikan.

“Iradiasi mampu menghentikan perkembangan hama tanpa merusak sifat fisik maupun kandungan gizi,” ujarnya.

Selain itu, dosis yang digunakan relatif rendah, berkisar antara 1 hingga 3 kiloGray (kGy). Pada tingkat tersebut, paparan cukup untuk membasmi telur dan larva yang sulit terdeteksi di dalam beras.

Meski demikian, efektivitas teknologi tidak hanya bergantung pada proses iradiasi. Faktor lain seperti sistem penyimpanan, sirkulasi udara gudang, hingga kemasan menjadi bagian penting agar tidak terjadi infestasi ulang.

Kajian awal juga menunjukkan bahwa iradiasi dapat diterapkan pada berbagai tahap, baik sebelum maupun setelah pengemasan. Fleksibilitas ini membuka peluang integrasi dengan sistem distribusi yang sudah berjalan.

Sebagai tahap awal, kapasitas pengolahan ditargetkan berada di kisaran beberapa ton per hari dalam skema uji coba. Pengembangan selanjutnya akan difokuskan pada penentuan dosis optimal, pengujian keamanan pangan, serta perbandingan efektivitas dengan metode konvensional.

Pemanfaatan teknologi ini dinilai menjadi langkah baru dalam pengendalian hama pascapanen, sekaligus membuka peluang penggunaan teknologi nuklir secara lebih luas di sektor pangan.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...