Selasa, 14 April 2026 11:11 WIB
Pangannews.id - Indonesia memang tidak lagi mencatat kasus pes pada manusia dalam beberapa tahun terakhir. Namun, para peneliti mengingatkan kondisi tersebut belum bisa diartikan sebagai tanda penyakit mematikan itu telah benar-benar hilang.
Pes, yang disebabkan bakteri Yersinia pestis, pernah mewabah di Indonesia pada awal abad ke-20, khususnya di Pulau Jawa. Penyakit ini dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan ditularkan melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menyebut Indonesia saat ini kemungkinan berada dalam fase “silent period”, yakni periode ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi masih berpotensi muncul kembali.
“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto, dikutip dari laman resmi BRIN.
Menurutnya, indikasi tersebut diperkuat dengan masih ditemukannya bakteri penyebab pes, serta vektor dan reservoirnya, pinjal dan tikus, di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor yang dinilai meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit ini. Aktivitas seperti deforestasi, alih fungsi lahan, hingga pertumbuhan penduduk membuat habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia.
“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” ujarnya.
Hal senada disampaikan peneliti BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat. Ia menambahkan, perubahan iklim juga turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” kata Choirul.
Ia menegaskan, tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga potensi penularan tetap ada.
Beberapa daerah di Pulau Jawa bahkan masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, di antaranya Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.
Meski tidak ada kasus pada manusia selama lebih dari satu dekade, Choirul mengingatkan agar kondisi ini tidak membuat lengah.
“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, para peneliti mendorong penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, serta vektor penyakit. Peningkatan sanitasi lingkungan dan pengawasan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.
Editor : Adi Permana
Kamis, 16 April 2026 11:47 WIB
Kamis, 16 April 2026 11:33 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...