Kamis, 16 April 2026 11:47 WIB
Pangannews.id - Upaya penangkapan massal ikan sapu-sapu yang tengah didorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai belum cukup untuk mengatasi lonjakan populasi spesies tersebut. Tanpa strategi yang lebih menyeluruh, ikan invasif ini diperkirakan akan terus berkembang di perairan ibu kota.
Pakar ikan dan konservasi dari IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak, menyebut karakter biologis ikan sapu-sapu membuatnya sangat sulit dikendalikan jika hanya mengandalkan satu metode.
“Pendekatan tunggal tidak akan efektif. Harus ada kombinasi, mulai dari pencegahan, penangkapan, sampai kontrol biologis,” ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB University.
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) dikenal memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Dalam satu periode, seekor betina dapat menghasilkan hingga puluhan ribu telur, dengan tingkat keberhasilan hidup yang juga tinggi.
“Telur dijaga oleh induknya di dalam liang sampai menetas, sehingga tingkat kelangsungan hidupnya bisa di atas 90 persen,” kata Charles.
Selain itu, ikan ini sudah dapat berkembang biak meski ukurannya masih relatif kecil. Siklus reproduksi yang cepat inilah yang membuat populasinya mudah melonjak dalam waktu singkat.
Di sisi lain, kondisi sungai di Jakarta memperparah situasi. Tidak adanya predator alami membuat ikan sapu-sapu dapat berkembang tanpa kontrol.
“Berbeda dengan di habitat aslinya, di sini hampir tidak ada predator spesifik yang memangsa ikan ini,” ujarnya.
Menurut Charles, langkah pencegahan perlu diperkuat, terutama dengan mengontrol peredaran ikan hias serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan ke perairan umum.
Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini menggunakan teknologi seperti environmental DNA (eDNA), agar keberadaan ikan bisa diketahui sebelum populasinya meledak.
Dalam kondisi saat ini, penangkapan tetap diperlukan, namun harus dilakukan secara lebih terarah. Ia menyarankan agar penangkapan difokuskan pada ikan berukuran kecil untuk menekan pertumbuhan populasi.
Pelibatan masyarakat dalam penangkapan juga dinilai penting, tetapi harus dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai agar tidak terjadi perpindahan populasi dari wilayah lain.
“Ikan yang sudah ditangkap perlu dimusnahkan agar tidak kembali ke habitatnya,” kata Charles.
Selain itu, ia mengusulkan pemanfaatan predator lokal seperti ikan baung dan betutu sebagai bagian dari pengendalian alami, meski efektivitasnya terbatas pada fase awal kehidupan ikan sapu-sapu.
Charles mengingatkan, ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar.
“Berpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Dengan karakter yang adaptif dan reproduksi tinggi, ikan sapu-sapu menjadi tantangan serius bagi ekosistem perairan Jakarta. Tanpa langkah terpadu, keberadaannya diperkirakan akan terus mendominasi dan mengancam keseimbangan lingkungan.
Editor : Adi Permana
Kamis, 16 April 2026 11:33 WIB
Rabu, 15 April 2026 11:22 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...