Makanan Dibungkus Plastik, Seberapa Aman Dikonsumsi?

Pers Pangannews

Selasa, 07 April 2026 12:02 WIB

news
Foto : halodoc.

Pangannews.id - Di balik kepraktisan penggunaan plastik sebagai kemasan makanan dan minuman, tersimpan potensi risiko kesehatan yang kerap diabaikan masyarakat. Paparan zat kimia dari plastik, terutama saat digunakan tidak sesuai, dapat berdampak pada tubuh dalam jangka panjang.

Dosen Teknologi Laboratorium Medik Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Baterun Kunsah, mengingatkan bahwa tidak semua jenis plastik aman digunakan untuk makanan, terlebih jika dipakai berulang atau terkena panas.

“Cara sederhana untuk menghindari bahaya plastik adalah dengan mengetahui jenis plastik yang digunakan, khususnya pada kemasan makanan dan minuman,” ujar Kunsah, Senin (6/4/2026), dikutip dari laman resmi Umsura.

Ia menjelaskan, setiap kemasan plastik memiliki kode tertentu yang menandakan bahan dan tingkat keamanannya. Namun, pemahaman masyarakat terhadap kode tersebut masih rendah, sehingga penggunaan plastik kerap tidak sesuai peruntukannya.

Salah satu yang paling umum adalah botol berbahan PET (Polyethylene Terephthalate) yang banyak digunakan untuk air minum dalam kemasan. Menurutnya, jenis ini hanya dianjurkan untuk sekali pakai.

“Jika digunakan berulang kali, lapisan polimernya dapat terurai dan berpotensi bersifat karsinogenik jika terakumulasi dalam tubuh,” jelasnya.

Risiko juga muncul dari penggunaan wadah berbahan polystyrene atau styrofoam, terutama untuk makanan panas. Plastik jenis ini dapat melepaskan zat kimia berbahaya ke dalam makanan.

“Zat styrene yang dilepaskan dapat memengaruhi fungsi otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita, serta berdampak pada sistem saraf,” ungkap Kunsah.

Selain itu, plastik jenis polycarbonate (PC) yang kerap digunakan pada galon atau botol susu bayi juga berpotensi melepaskan zat bisphenol-A (BPA) saat dipanaskan.

“Ironisnya, botol susu bayi yang terbuat dari plastik PC dapat mengeluarkan bisphenol-A ketika dipanaskan. Zat ini diketahui dapat mengganggu sistem hormon dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh,” tegasnya.

Untuk meminimalkan risiko, masyarakat disarankan mulai mengurangi penggunaan plastik, terutama untuk makanan panas atau penggunaan berulang. Alternatif seperti wadah berbahan kaca atau logam dinilai lebih aman.

“Misalnya saat membeli makanan, sebaiknya membawa wadah sendiri seperti yang dilakukan masyarakat dulu,” kata Kunsah.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat lebih selektif saat menggunakan plastik, termasuk memperhatikan label bahan sebelum digunakan.

“Langkah kecil ini penting untuk mengurangi risiko paparan zat berbahaya dari plastik sekaligus menjaga kesehatan dalam jangka panjang,” tutupnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...