11 jam yang lalu
Pangannews.id - PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi. Kenaikan terjadi pada tabung 12 kilogram (kg) maupun 5,5 kg, setelah harga sebelumnya bertahan sejak 2023.
Mengacu dari laman resmi Pertamina Patra Niaga, Minggu (19/4/2026), harga LPG 12 kg naik dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung atau melonjak 18,75 persen.
Harga tersebut berlaku di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kg juga mengalami kenaikan dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung atau naik 18,89 persen di wilayah yang sama. Untuk daerah lain, harga disesuaikan dengan biaya distribusi masing-masing wilayah.
Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak November 2023. Saat itu, Pertamina justru menurunkan harga LPG 12 kg sebesar Rp12 ribu menjadi Rp192 ribu per tabung.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga pada saat itu, Irto Ginting, menjelaskan bahwa penyesuaian harga LPG mengacu pada evaluasi tren Contract Price Aramco (CPA) serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Namun, kondisi saat ini berbeda. Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyebut kenaikan harga LPG tak lepas dari lonjakan harga minyak mentah global.
“Harga LPG sangat dipengaruhi harga minyak dunia yang saat ini mengalami kenaikan signifikan,” kata Eddy.
Data pemerintah menunjukkan, harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 mencapai 102,26 dolar AS per barel, naik 33,47 dolar AS dibandingkan Februari.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan lonjakan ICP dipicu dinamika geopolitik global yang memanas sepanjang Maret.
“Kenaikan harga minyak mentah global dipicu eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung terhadap pasokan energi dunia,” ujar Laode.
Ia menambahkan, terganggunya jalur distribusi energi global, termasuk penghentian pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, ikut memperparah tekanan harga.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah juga memperburuk kondisi pasokan global.
Editor : Adi Permana
Jumat, 17 April 2026 15:21 WIB
Jumat, 10 April 2026 08:47 WIB
Selasa, 07 April 2026 11:05 WIB
Senin, 06 April 2026 12:36 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...