Merangin Kembangkan Edukasi Pertanian, Siapkan Lahan Percontohan

Pers Pangannews

11 jam yang lalu

news
Bupati Merangin M. Syukur saat menghadiri panen jagung di Balai Benih Utama (BBU) Sungai Manau, Sabtu (18/4/2026). (Foto : Pemkab Merangin)

Pangannews.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin, Provinsi Jambi, mengarahkan pemanfaatan lahan pertanian milik daerah tidak hanya untuk produksi, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi pelajar dan destinasi wisata berbasis pertanian.

Gagasan itu disampaikan Bupati Merangin M. Syukur saat menghadiri panen jagung di Balai Benih Utama (BBU) Sungai Manau, Sabtu (18/4/2026). Di tengah kegiatan tersebut, ia menyoroti pentingnya mengenalkan kembali dunia pertanian kepada generasi muda.

Menurut Syukur, lahan pertanian pemerintah memiliki potensi besar untuk dijadikan ruang belajar terbuka bagi siswa, sekaligus menghidupkan kembali tradisi bercocok tanam yang dulu akrab di lingkungan sekolah.

“Lahan-lahan pemerintah ini jangan hanya jadi tempat produksi, tapi juga jadi sarana edukasi. Saya ingin anak-anak kita diajak ke sini untuk melihat langsung bagaimana cara menanam jagung, cabai, dan tanaman lainnya,” ujar Syukur.

Ia meminta Dinas Pertanian berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan agar program tersebut dapat berjalan terstruktur. Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima teori di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di lapangan.

Selain fungsi edukasi, Syukur juga melihat peluang pengembangan sektor wisata dari lahan pertanian yang dikelola pemerintah. Penataan kawasan yang menarik dinilai mampu mendatangkan pengunjung sekaligus menjadi media pembelajaran bagi masyarakat.

“Jika dikelola dengan rapi, lahan ini bisa jadi tempat wisata. Ada buah-buahan, ada sayur-mayur. Masyarakat senang melihatnya, dan di saat yang sama mereka belajar tentang pola tanam yang berhasil,” katanya.

Saat ini, pemerintah daerah mengelola sekitar 40 hektare lahan yang diproyeksikan menjadi percontohan atau laboratorium alam. Namun, ia menegaskan keberhasilan program tersebut bergantung pada bukti nyata di lapangan.

“Kita tidak bisa bicara edukasi kalau kita tidak punya contoh yang sukses. BPP jangan hanya bicara teori, tapi harus praktik. Ketika praktik ini berhasil, baru kita tunjukkan kepada masyarakat dan anak-anak sekolah,” tegasnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...