Kematian Massal Babi di Gianyar Meluas, Peternak Rugi Puluhan Juta

Pers Pangannews

6 jam yang lalu

news
Ilustrasi peternakan babi. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Suara lenguhan babi di kandang milik I Wayan Sudiantara kini hilang. Dalam waktu kurang dari sepekan, seluruh ternaknya mati satu per satu. Anak babi berusia sekitar 50 hari hingga indukan tak ada yang tersisa.

Peternak asal Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar itu hanya bisa pasrah melihat 26 ekor babinya berguguran akibat penyakit yang diduga kuat berkaitan dengan African Swine Fever (ASF).

“Awalnya panas, tidak mau makan, lalu sesak napas. Tiga hari kemudian mati,” kata Sudiantara, Jumat (22/5/2026).

Untuk mencegah penularan makin meluas, ia memutuskan membakar seluruh bangkai ternaknya sendiri. Keputusan itu diambil karena khawatir virus menyebar ke kandang milik warga lain. Kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Bukan hanya Sudiantara yang terpukul. Sedikitnya lima peternak lain di Banjar Susut disebut mengalami kejadian serupa. Kematian babi juga mulai dilaporkan dari sejumlah banjar lain di wilayah Payangan.

Situasi ini membuat peternak kembali dihantui trauma wabah ASF yang beberapa tahun terakhir berkali-kali memukul peternakan babi di Bali.

Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar membenarkan adanya peningkatan kasus kematian babi di wilayah tersebut. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Hewan, I Made Dwitemaja, mengatakan beberapa sampel ternak yang mati sudah diperiksa di laboratorium.

“Hasil uji memang ada yang mengarah suspect ASF,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya masih terus melakukan pemantauan untuk memastikan sumber penularan.

Menurut Dwitemaja, kondisi kandang peternak di Gianyar sebenarnya relatif bersih. Namun, penularan diduga terjadi melalui aktivitas manusia, terutama saat peternak membeli pakan.

Ia menjelaskan, virus kemungkinan terbawa melalui pakaian atau alas kaki peternak setelah berinteraksi di tempat penjualan pakan yang ramai.

“Setelah beli pakan, ada kemungkinan peternak langsung masuk kandang tanpa membersihkan diri, sehingga virus terbawa masuk,” katanya.

Dinas kini meminta peternak memperketat biosekuriti, mulai dari penyemprotan disinfektan, mencuci tangan dan kaki, hingga mengganti pakaian sebelum masuk area kandang.

Imbauan itu disampaikan karena hingga kini belum ada vaksin efektif untuk ASF. Jika benar wabah kembali meluas, peternak kecil dikhawatirkan menjadi pihak yang paling terpukul.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...